Untuk apa aku ngomik..?

7:54 PM

oleh Prangg Rn pada 24 Agustus 2010 jam 21:07

Mengapa saya tak bisa berpuisi lagi..."

Sebuah judul tulisan yang langsung mengena ke dadaku. Mukaku seperti ditampar-tampar, tubuhku seperti ditelanjangi. Sebuah catatan pendek Didi Kaha ( Usman Didi Khamdani) yang ditulis setelah membaca tulisan Kang Acep Zamzam Noor "PUISI DAN BATU AKIK". Cukup lama aku menimbang sampai akhirnya aku menulis catatan ini. Malam ini.

Mungkin beberapa orang menganggap catatan Usman Didi Khamdani tersebut bukan hal yang serius. Biasa saja, ringan-ringan saja, tak ada yang istimewa dan itu merupakan hal yang wajar dalam kehidupan berkesenian.


Tapi bagiku tentu berbeda, karena saat ini aku pun dalam keadaan yang serupa dengan Didi Kaha. Hampir dua tahun sejak kepulanganku dari Jepang pada oktober 2008, tak ada satu lembar komik pun yang aku hasilkan. Padahal saat berada di Jepang semangatku mengebu-gebu, bagun tidur urusanku adalah ngomik, kerja selama delapan jam dan pulang ngomik lagi sampai larut malam.


Ada banyak alasan untuk membela diri tentu, dan alasan paling klise tapi ampuh adalah soal keterbatasan waktu. Setelah menikah, aku membagi waktuku untuk banyak hal. Sebagai seorang suami tentu menjalin komunikasi dengan istri adalah kewajiban, sebagai kepala keluarga maka mencari nafkah adalah keniscayaan, sebagai mahluk social yang hidup di kompleks perumahan menjalin hubungan dengan tetangga dan bersosialisasi tentu juga sebuah keharusan. Dan di sela-sela waktu luangku itulah aku sempatkan diri menjalin persahabatan dengan sesama pecinta keindahan, komunitas seni di lingkungan Cikarang. Tapi untuk ngomik ...? Sungguh tak tersentuh walau saat libur sekalipun.

Penaku telah lama kering. Tinta tertutup rapat dan berdebu. Software komik yang susah payah aku cari tak lagi tersambangi , berganti dengan Microsoft office yang kini mengepungku. Garis-garis tebal tipis yang berirama tak lagi tercipta dikalahkan pareto dan grafik, tabel- tabel yang kaku seperti jeruji penjara.

Bukan aku tak menyadarinya, tapi setiap kali akan memulai saat itu pula aku mengahiri. Tak perlu kutuliskan usaha untuk memulai kembali aktifitas ngomik , karena kenyataannya aku tak menghasilkan apapun. Memang ada beberapa puisi, cerpen dan gambar yang aku buat, tapi aku telah memilih komik sebagai duniaku dan aku tidak merasa berkarya jika tidak dalam bentuk komik. Tak perduli komik apapun.

Dan membaca catatan Usman, aku seperti dibangunkan dari tidur. Membuka mata dan kulihat komikus-komikus lain tengah berdarah-darah bergerilya melawan serbuan komik asing sedangkan aku asik menikmati rembulan sambil mengeluh dan memanjakan diri. Dan pertanyaan yang harus aku jawab sebelum ngomik lagi adalah, "untuk apa aku ngomik..?"

Artikel Terkait

Previous
Next Post »