SENIMAN

8:23 PM
oleh Prangg Rn pada 13 Oktober 2010 jam 7:46

Sebuah pesan datang ke Facebookku, isinya tentang kekecewaan seorang penulis puisi pada sepak terjang dan perilaku para seniman di Tegal yang menurutnya hanya mencari sensasi dan populeritas semata. Seniman tua hanya membanggakan masa lalu mereka, seniman muda gagap dan cengeng. Kalau boleh dibilang, yang ada "mantan seniman" dan "calon seniman".

Dalam beberapa hal aku setuju, namun ada juga yang perlu diluruskan. Aku yakin masih tersisa seniman yang terus berkarya dengan intens walau jarang terendus media massa.

Aku, yang jelas bukan seorang pekerja seni walau terus terang memiliki ketertarikan dalam dunia seni. Aku seorang pekerja, yang terkadang menghasilkan karya seni. Tapi aku bukan orang yang hidup dari dunia kesenian.

Jelas, pergaulanku dengan beberapa seniman tidak terlalu intens, bahkan boleh dibilang aku jarang bergaul dengan mereka. Alasannya, malu karena aku tidak memiliki karya. Bertahun-tahun aku mencoba berkarya dalam sepi, mencoba membuat sesuatu yang nantinya dapat kujadikan bekal untuk dapat bergaul dan diterima oleh komunitas seni di kota kelahiranku. Namun tetap saja tak ada sesuatu yang menurutku dapat dibanggakan dari apa yang aku hasilkan.


Namun seperti juga ikan, dia butuh air sebagai media untuk melangsungkan kehidupannya. Seperti seekor burung, aku butuh dahan dan ranting tempat untuk hinggap dan istirah. Dan begitulah akhirnya aku mulai mengenal para pelaku kesenian di Tegal walau mereka mungkin tak mengenalku.

Keanehan terjadi. Saat bertemu, bergaul dan ngobrol bersama mereka, aku merasa berhadapan dengan seniman-seniman besar : dari cara berbicara, pakaian, bahkan kentut mereka pun terasa sangat indah dan merdu laksana nyanyian burung di pagi hari. Namun sayangnya, aku disuguhi dengan mengenal sosok mereka. Bukan karya mereka.

Jika sebelumnya aku mengenal berbagai seniman dari hasil karyanya, kemudian penasaran dengan sosoknya, maka yang terjadi di Tegal sedikit berbeda. Aku diperkenalkan pada sosok mereka, kemudian setengah mati mencari karya mereka. Dan rupanya, hal ini tidak hanya terjadi di Tegal saja. Di kota-kota lain pun, banyak seniman-seniman yang miskin karya namun bertingkah laku sok nyeni. Bahkan parahnya lagi, para seniman tua pun terkena penyakit Posh power syndrome. Mereka hanya membanggakan kejayaan masa lalu mereka, padahal hal itu mereka lakukan hanya untuk menutupi kemandegan mereka berkarya, mencari alasan untuk tetap duduk di dewan kesenian sambil menunggu proyek pementasan pada acara seremonial pejabat pemerintah.

Lucu memang, bicara tentang kemandirian namun untuk membiayai pementasan mereka hanya mengandalkan proposal. Mendekat pada birokrat sehingga timbul simbiosis mutualisme, kerja sama yang saling menguntungkan. Pejabat senang bisa membangun image dan memiliki media tebar pesona, sementara sang seniman senang mendapatkan banyak order manggung.

Dari hubungan harmonis semacam itu, apakah kemudian seniman bisa menjalankan fungsinya sebagai alat kontrol pemerintah...? Kenapa hal ini bisa terjadi ? Karena karya mereka memang tidak layak jual. Dan yakinlah, masyarakat awam adalah kritikus seni yang paling jujur. Mereka hanya akan membeli karya seni yang menurut mereka menarik. 

Artikel Terkait

Previous
Next Post »