Gayus, I love you fulllllll

8:21 PM
oleh Prangg Rn pada 23 November 2010 jam 18:24

Lelaki  dengan  rambut lurus  belah tengah, berkaca mata,  tertangkap kamera saat menonton pertandingan tenis di Bali.  Tentu tidak akan menjadi berita jika  sang lelaki tersebut adalah  orang biasa macam aku, kamu atau kita. Yang kemudian menjadi masalah adalah, bahwa  rambut yang ada dikepala  lelaki tersebut  palsu. Inilah yang membuat  masyarakat kita gerah, penegak  hukum kebakaran jenggot,  dan tentu  media massa  sibuk  luar biasa.

Gila,,, betapa  orang  Indonesia  menghargai  hak  cipta, sehingga  rambut  palsu  dipermasalahkan. Tapi  sekali lagi dugaanku keliru,  orang-orang  bukan  mempermasalahkan  rambut  palsu  yang  melanggar  hak  cipta  Allah, karena  Allah  yang  maha  pengampun dan  pemurah  memang tidak  pernah  menuntut  terhadap  pelanggaran hak cipta segala  ciptaannya.  Yang  menjadi  masalah  bukan  rambutnya,  kaca  mata atau aksesoris lain yang dipakai  lelaki tersebut.  Status lelaki itulah yang bermasalah;  Gayus Tambunan,  seorang  tersangka  koruptor yang tengah menjalani masa tahanan di Rutan  Brimob, Kelapa Dua Depok ternyata  berada  di Bali untuk  menonton pertandingan tenis.

Apakah  ini hal yang gila..? Sebagai  seorang yang lahir  di  tanah  Indonesia,  bagiku  bukan  hal  yang  baru  jika  mendengar  berita  seperti  itu.  Bukan  hanya  Gayus,  toh  terlalu  sering  kita  dengar  artis,  tokoh  dan  orang-orang  kaya  yang  berada  dipenjara  masih  mampu  “mendandani“ ruang  penjara  melabihi  kamar  hotel  berbintang.



Dan  bicara  tentang penegak hukum,  hingga  detik  ini  selalu  saja  yang  terlintas  dalam  pikiranku  adalah  uang. Uang  dan  uang.  Setiap  kali  berurusan  dengan  polisi,  aku  harus  menyiapkan  sejumlah  uang.  Saat  sepeda  motorku  hilang,  aku  harus  banyak  mengeluarkan  uang  dan  motor  tak  pernah  kembali.  Mengurus  SIM,  berkali-kali  tes tetap  saja  tak  bisa  mendapatkannya,  namun  dengan  mengeluarkan  sejumlah  uang  tak  sampai  satu jam SIM  sudah  ada  ditangan.  Dan  begitu  banyak  kejadian  yang  kualami,  selalu  saja  berurusan  dengan  polisi  berarti  akan  kehilangan  sejumlah  uang. Untuk  hal  yang  remeh temeh  sekalipun.  Maka  jujur  saja,  jika  sebagian  orang  bangga  bila  mempunyai  keluarga,  teman  atau  kenalan  seorang  polisi,  aku  justru  sebaliknya.  Meskipun  mungkin  masih  ada  polisi  yang  jujur  dan  idealis,  tetap  saja  aku  terlanjur  membenci  profesi  tersebut. Bahkan  hanya  melihat  seragam  mereka  saja  sudah  mampu  menumbuhkan  dua  tanduk  di  kepalaku.

Dan  malam  ini,  ketika  aku  mulai  menuliskan  tulisan  ini,  sebuah  SMS  datang  dari  Mbak  Nani  Tanjung,  seorang  seniman,  pemain  teater  dan  penulis  puisi  yang  beberapa  waktu  lalu  kukenal  di  KEDAILALANG:  “Boleh  jadi  kamu  membenci  sesuatu  padahal  ia  amat  baik  bagimu.”!!? (QS. Al- Baqarah : 216). Salam Sehat Selalu, Nani  Tanjung.

Kebencianku  selama  ini  menjadi  kabur  hanya  oleh  sebuah  SMS  pendek.  Berpikir  ulang,  menata  hati,  kemudian  pertanyaan-pertanyaan  bermunculan.  Pantaskah  aku  membenci  seorang  polisi, koruptor,  bromocorah,  penipu  dan  lain  sebagainya..? 

Aku  coba  pejamkan  mata,  kubayangkan  wajah  Gayus,  polisi, koruptor,  maling  ayam  dan  pelan-pelan  kukatakan “I LOVE YOU FULLLLLLLL….”

Artikel Terkait

Previous
Next Post »