BEDA UNDANGAN

7:46 PM

BEDA UNDANGAN


oleh Prangg Rn pada 08 Oktober 2011 jam 2:41



Malam sabtu yang sepi, anak dan istri sudah lelap tertidur. Kantuk belum juga datang, mencari hiburan yang paling murah dan terjangkau untukku ya cuma nonton TV, dengan acara yang tak karuan.


Seperti biasa, pindah chanel kesana-kemari. Kemudian terhenti pada SCTV salah satu stasiun TV yang bagiku sangat membosankan dengan acara sinetronnya. Tetapi tidak kali ini, sebuah dialog sinetron membuatku tersenyum. Bukan kalimatnya, tetapi pengucapanya yang kental, medok dan “ngapak”. Dari logat yang renyah itulah aku mulai tertarik dengan ceritanya.

Prangg Rn
Entah apa judul sinema tersebut. Temanya sederhana, bukan tentang cinta orang kaya, perselingkuhan, perebutan warisan atau pembunuhan. Tak ada mobil mewah berkilat, tak ada rumah megah bertingkat. Bersetting pada suasana desa, dokar, tukang becak, pohon-pohon pisang dan kedongdong, dapur rumah yang benar-benar ngebul (penuh asap, bukan dapur dengan gas elpiji). Suasana yang sangat akrab bagiku. Wajah Indonesia, wajah kampungku, akar tempatku tumbuh.


Pak Mudrik yang memiliki seorang anak gadis -satu-satunya dokter di sebuah desa di Banyumas- yang sedang melakukan persiapan pernikahan. Masalahnya sederhana, Pak Mudrik membuat dua undangan yang berbeda : satu berwarna kuning dengan tinta emas, harum dan mewah khusus untuk kalangan pejabat, orang kaya, priyayi dan orang-orang sekelasnya. Satu lagi berwarna merah dengan model yang sederhana, khusus untuk orang-orang miskin. Mereka diundang dengan waktu dan penyambutan yang berbeda.

Hal ini ternyata menyinggung perasaan orang-orang yang menerima undangan merah. Mereka merasa dihina, merasa dinomor duakan, merasa tidak dihargai dan sebagainya. Akibatnya banyak orang yang berniat untuk tidak datang pada pesta pernikahan anak gadis Pak Mudrik. Kabar tersebut sampai ke telinga Pak Mudrik, dan karena takut ia meminta tolong pada beberapa tokoh masyarakat untuk membujuk warga agar mau datang ke resepsi pernikahan anaknya. Upaya tersebut berhasil.



Pagi hari, para penerima undangan merah berduyun-duyun datang dengan segala macam tingkah lakunya.  Lucu dan norak, ndeso dan lugu. Makanan ludes, jajanan habis karena banyak yang mengambilnya untuk dibawa pulang.

Sore hari, giliran para penerima undangan kuning. Usut-punya usut, ternyata para undangan sedang menghadiri hajatan Pak Bupati sehingga tidak bisa datang ke tempat Pak Mudrik. Para tetangga, orang-orang miskin penerima undangan merah hanya berdiri diluar pagar rumah, menunggu, ingin sekali melihat tampang orang-orang kaya. Tapi menjelang malam hanya segelintir orang yang datang, penuh basa-basi. Makanan enak tidak tersentuh, jajanan teronggok sia-sia. Pak Mudrik malu bukan main. Tangis anak gadisnya pecah tak tertahankan.

Mungkin penulis cerita sedang bermaksud menghukum Pak Mudrik dengan ‘menghalangi’ para priyayi datang, sebab kalau para penerima undangan kuning datang beramai-ramai maka ending cerita tentu akan hambar dan tawar.

Cerita yang asik. Tetapi membuatku sejenak berfikir. Yang menarik bagiku bukan sikap Pak Mudrik, karena bagaimanapun Pak Mudrik sudah dihakimi oleh sutradara, penulis cerita dan tentu para penonton yang puas dengan nasib akhir Pak Mudrik. Yang menarik bagiku justru sikap orang-orang miskin tersebut. Mengapa merasa terhina mendapatkan undangan merah…? Mengapa merasa marah disebut miskin..? Mengapa merasa diremehkan jika waktu acara dibedakan..?

Aku membayangkan diriku sendiri, seandainya aku mendapatkan undangan pernikahan dari anak Presiden. Tentu sangat banyak yang harus aku persiapkan. Tidak mungkin aku datang dengan baju kemeja hitam putih, minimal pinjam jas dan berdasi. Jika menggunakan Jas dan dasi, tidak mungkin aku naik angkot, minimal naik taksi.

Belum lagi di dalam acara, tentu aku akan bertemu dengan orang-orang besar yang obrolannya sulit untuk kujangkau dengan kemampuanku yang pas-pasan. Berbasa-basi, sopan-santun yang dipaksakan, dan banyak lagi kerepotan-kerepotan yang lain. Oh,,, aku mungkin akan seperti kethek munggah bale.

Sungguh, jika aku menjadi tetangga Pak Mudrik, aku akan sangat bersyukur jika menerima undangan merah; undangan untuk orang miskin.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »